Halaman

Kamis, 27 Maret 2014

(lagi) minum kopi sambil menulis "Perempuan yang harus diperistri adalah yang masih perawan(What the.... -__-")

Mungkin sedikit tabu membahas tulisan saya kali ini, hanya saja beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan yang mengatakan bahwa “menikahlah dengan perempuan yang masih “gadis” (bukan pezinah) “ ! wow, ini yang pertama keluar dari saya, dan menimbulkan ketakutan tersendiri untuk saya sendiri. sebelum saya bahas lebih lanjut kenapa itu menjadi ketakutan (wanti-wanti saja mungkin ada yang berpikiran terlalu jauh tentang saya) .
Menurut wikipedia Perawan atau gadis dapat merujuk pada seorang wanita muda atau seorang wanita dewasa yang belum mempunyai suami atau di beberapa kebudayaan merujuk pada wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual atau sanggama dengan seorang pria. Istilah yang lain untuk ini adalah wadat dan selibat. Secara umum, perawan juga direlasikan dengan kesucian (jadi kalau sudah melakukan perempuan nggak suci lagi? -__-“ saya pun kurang tau.) itu sedikit ulasan tentang arti keperawanan yang saya temukan. Ada beberapa kegiatan-kegiatan yang ternyata tidak boleh terlalu sering dilakukan wanita karna mampu merusak selaput darah pada bagiam intim mereka (entahlah ini mitos atau tidak) seperti contohnya berenang dan terlalu sering naik sepeda. Sedari saya kecil saya suka sekali naik sepeda dan juga sering berenang di sungai dekat rumah saya, nah...! mulai dari sini saya berharap kenapa saya menjadi takut setelah membaca artikel diatas. Saya suka naik sepeda yang katanya bisa merobek selaput darah yang artinya saya sudah tidak perawan yang artinya saya pezinah!!!!!! ( sumpah ini menakutkan L ) . ih sumpah pemikiran tentang ini sangat KUNO -__-“
kita beralih kekasus lain tingkat pelecehan seksual faktanya kebanyakan dialami oleh wanita, bahkan sampai merusak keperawan mereka, ini yang kemudian memborbadir para perempuan yang dalam lingkungannya telah terkungkung bahwa perempuan sebelum menikah mutlak mereka harus perawan, infomasi seperti inilah yang membuat perempuan pelecehan seksual tidak mau mengaku.  Tak jarang ketika ada perempuan yang mengaku, mereka bukannya mendapat dukungan tapi menjadi bulan-bulanan masyarakat (yang mengagung-agungkan syarat perempuan ideal harus perawan) keluargapun akan menganggap ini sebagai aib ketika anak perempuannya sudah tidak perwan lagi (berat sekali jadi perempuan L ) dan tentu saja perempuan korban tersebut menjadi merasa terhina trauma dan takut melakukan pernikahan (lalu haruskah saya berteriak kepada mereka yang pernah menjadi korban pelecehan seksual sampai kehilangan keperawannnya bahwa mereka adalah pezinah?)
kebetulan sedang membahas tentang keperawanan saya tiba-tiba ingat beberapa waktu yang lalu heboh tentang beberapa sekolah, institusi dan lembaga-lembaga pendidikan yang mengharuskan  para siswi-siswi melakukan tes keperawanan jika ingin menempuh pendidikan di tempat-tempat tersebut, (http://regional.kompas.com/read/2013/08/19/2212178/Siswi.SMA.di.Prabumulih.Wajib.Tes.Keperawanan )
what the....... ? saya jelas-jelas tidak sepakat (menolak,mengecam, mengutuk) sistem ini, untuk lembaga pendidikan manapun. Apa coba tujuannya? Apa dampaknya bagi pendidikan?. Menurut saya ini terlalu menyudutkan perempuan, coba bayangkan perempuan harus di tes, membuka celana mereka didepan orang-orang yang asing “mengutak-atik” organ intim mereka, (ingin sekali saya menggampar pencetus ide ini -__-“ ) TERLALU MENYUDUTKAN!!! Pokoknya dengan tujuan apapun saya menolak (sekali lagi tolong jangan berpikir jauh tentang saya, SAYA BUKAN PEZINAH walaupun saya suka bersepeda -__-“) .apakah orang-orang yang menciptakan sistem ini tidak berpikir kerugian-kerugian yang berakibat untuk perempuan-perempuan? Dampak psikologi misalnya yang pastinya akan menyebabkan trauma untuk mereka.
Dari sekian kasus-kasus diatas ada banyak sisi yang ternyata (secara tidak langsung) mendiskrimansikan perempuan. Kenapa soal ‘keperawanan’ perempuan dijadikan masalah, sementara laki-laki tidak? Seolah-olah HANYA perempuan yang dituntut untuk ‘perawan’, sementara laki-laki tidak. Bagaimana dengan laki-laki yang sudah kehilangan keperjakaannya? Adakah cara untuk mengetahui bahwa mereka tidak perjaka? (nah loh hati-hati teman-teman yang “berhubungan” tapi dalam status yang sah) laki-laki yang pernah kehilangan keperjakaan tidak meninggalkan sisa walau berkali-kali mereka “berhubungan”, sedangkan perempuan otomatis meninggalkan bekas (lagi-lagi inilah kekurang beruntungan perempuan, “mama kenapa saya tidak dilahirkan sebagai laki-laki? Huaaaaaa L ” itu suara hati saya.

Kembali ke laptop, maksud saya artikel yang sebelumnya saya bahas (HAHAHA garing yah :D) jadi apakah seorang perempuan yang sudah tidak perawan  tidak boleh dinikahi karna mereka PEZINAH? ( sumpah,, ini satu kata yang sangat membuat saya geram -__-“ ), kampret sekali!. Sebenarnya ini tidak adil bagi kehidupan kaum perempuan, tapi inilah kehidupan  yang diberikan Tuhan kepada kaum perempuan. Mungkin saja dalam memang ada yang Pezinah (please, saya tak termasuk kan? L ) tapi Setau saya dalam agama, laki-laki boleh menikahi perempuan ASALKAN mereka sudah bertaubat dan harus mengetahui alasan mereka kehilangan keperawanan yang mungkin saja karna pelecehan seksual (yang mereka sendiri tidak inginkan), atau karna olahraga-olahraga yang menyebabkan robeknya selaput darah mereka, kan tujuan pernikahan bukan hanya karna seksual tapi  membentuk keluarga yang baik .  memang keperawanan itu penting, tapi ada banyak alasan perempuan akhirnya kehilangan itu, maka jagalah baik-baik kaum perempuan (kekasih, saudara, perempuan, teman perempuan) yang ada disekitar kita agar mampu menjadi perempuan yang ideal. Terlepas dari tulisan saya mari menjadi perempuan kuat yang berlawan,yang melawan segala bentuk diskrimanasi, mengutuk segala bentuk pelecehan seksual. “perempuan itu ibarat kapas dan laki-laki ibarat pisau” saya juga tidak ingat siapa yang membuat kutipan ini.

Selasa, 11 Maret 2014

Menulis "Perempuan" ditemani secangkir kopi

Tiba-tiba saya ingin menulis sesuatu yang seperti ini, setelah saya melihat cover dari buku karya Djenar Maesa Ayu yang berjudul "Nayla", buku ini sudah lama saya khatamkan, termasuk dengan karya  Djenar yang lain yaitu "Jangan main-main dengan kelaminmu"(lagi-lagi perempuan pada sisi selangkangan). karya- karya Djenar memang hampir semua bertemakan perempuan mungkin karna dia seorang perempuan jadi melahirkan tokoh-tokoh perempuan dalam tulisannya. yang saya nikmati dalam setiap tulisannya adalah caranya menggambarkan perempuan yang kuat dan luar biasa, bukan seorang perempuan yang selalu disebut sebagai "pemilik tangis", "pemilik rasa", "pemilik keindahan" dan segala jenis sebutan untuk perempuan, yah walaupun memang semunya benar tapi pointnya perempuan terlahir bukan hanya untuk itu. saya sebagai perempuan kagum akan keberaniannya menggambrakn perempuan dari sisi (yang betul-betul) keperempuanan yang sebenarnya. bagaimana perempuan dijadikan sebagai bahan eksploitasi pasar (ini sudah rahasia umum) , bagaimana isu gender masih berlaku di masyarkat umum dalam hal pekerjaan, dan masih banyak lagi.

Perbedaanya dengan kaum laki-laki adalah, syarat menjadi perempuan yang baik adalah  harus luar biasa di "dapur,sumur,dan (ini yang paling mengganggu) kasur". perempuan yang baik adalah yang jago masak, melakukan perkerjaan rumah tangga, mengurus keuangan dan memberi keturunan atau memuaskan suami diranjang, sedangkan syarat-syarat menjadi laki-laki adalah pintarlah mencari uang (Djenar pun sempat membahasnya) . beruntunglah pemikiran seperti itu hanya berlaku dimasyarakat tradisional yang memang membekali perempuan dengan keterampilan seperti itu sejak mereka lahir. saya bukan mencoba menjadi RA Kartini kedua yang sedang berjuang melawan diskriminasi perempuan, hanya saja saya terkadang terganggu dengan hal-hal yang( dianggap sepele namun) menyentil keberadaan perempuan. beberapa hari yang lalu saya menonton acara yang ditayangkan salah satu televisi swasta dengan judul  "Harta, Tahta dan Wanita" yang di tayangkan tengah malam. Damn! saya tidak suka acara ini dari judulnya saja seakan-akan perempuan hanya disejajarkan dengan Tahta dan Harta tentang bagaimana perempuan dijadikan tolak ukur keberhasilan seorang laki-laki (itu pandangan awal saya) namun ternyata acara ini mengangkat peristiwa-peristiwa hukum yang dimana perempuan terlibat didalamnya (menurutku sama saja, kenapa laki-laki tidak dicantumkan dijudul kalau begitu, mereka bahkan pelaku kebanyakan kasus hukum).

Saya punya dosen perempuan (dikampus lama) seorang perokok, dia adalah seorang dosen yang cukup akrab dengan mahasiswanya dan sering berbincang-bincang lepas dibawah pohon dengan mahasiswanya dan tentu saja sambil menikmati rokoknya. suatu kali seorang dosen (laki-laki) baru punya masalah (entah dengan dosen  perempuan tadi atau dengan dirinya sendiri -__-" ), saya pun kurang paham dengan masalahnya intinya tentang perkuliahan, dosen baru ini sering menyindir lewat akun sosial medianya. point yang saya tangkap adalah, ada bagian dimana ia menyindir kata "perokok". bagian mana yang salah dengan kata ini?? (anda bingung? sama! saya juga) padahal banyak kok orang-orang disekitar kita perokok, ternyata yang salah adalah karna dosen ini "perempuan". FAKK! (sorry for that) saya benci bagian dimana ke-perempuan-an lagi-lagi di jadikan alasan. itulah yang terjadi perempuan yang merokok itu tidak baik, nakal, dan liar. padahal bukan itu yang penting tapi bagaimana dosen ini membagikan ilmunya kepada mahasiswa, metode pengajarannya (sejauh ini saya memberinya 2 jempol). so because she is a smoker,it means she is not good enough to be a good lecturer?? . ini betul-betul memuakkan saya.

Menjadi perempuan kuat adalah sebuah pilihan, tikungan yang terjal namun disitulah letak keindahannya. BERSAMBUNG

NEXT ON  "Perempuan yang harus diperistri adalah yang masih perawan"---> WTF -__-"