Ada luka yang menganga
ketika ku saksikan wajah-wajah yang tak putih lagi terlumur darah, entahlah
darah siapa,darah mereka, darah ibu mereka, darah ayah mereka, darah kakak
mereka,darah adik mereka ataukah darah teman-teman mereka bermain.
Ada sakit yang teramat
sakit ketika ku saksikan para wanita itu berteriak menggendong seorang anak
yang berlumur darah, kehilangan satu tangan akibat ledakan bom, entahlah anak
siapa, anak wanita itu,anak kakaknya, anak adiknya,ataukah anak tetangganya.
Ada perih yang tak
tertahankan melihat para lelaki tua memegang senjata di usia senja mereka,
berjalan tertatih-tatih demi melindungi istrinya yang juga telah
renta,melindungi anak-anaknya, melindungi cucu-cucunya,menjaga tempat tinggalnya,mempertahankan tanah kehidupannya.
Ada amarah yang ingin
meledak ketika ku saksikan pasukan-pasukan bejat itu berkeliaran diudara dengan
helikopter mereka meledakkan bom-bom diatas tanah itu, tanah muslim,tanah para
Nabi.
Ada murka yang tak
terbendung menyaksikan para penjajah itu meluluh lantakkan rumah tempat tinggal
mereka,membumi hanguskan rumah mereka, meledakkan setiap sumber kehidupan
mereka, menghancurkan kebebasan mereka.
Ada rindu yang kukirim
dengan diiringi jutaan cahaya dari setiap Do’a-Doa ku untukmu
anakku,adikku,kakakku,ibuku,ayahku,saudaraku,palestinaku,Gazaku. Tak akan
pernah putus Do’a ku untuk kedamaianmu, karna air mata masih mengalir,karna jeritan pilu masih terdengar,karna ceceran darah masih belum kering di tanah itu,karna perang masih berlangsung,dan Do'a ku takkan pernah putus.
YVKS