Halaman

Kamis, 10 Juli 2014

UNTUKMU PALESTINAKU.



 


Ada luka yang menganga ketika ku saksikan wajah-wajah yang tak putih lagi terlumur darah, entahlah darah siapa,darah mereka, darah ibu mereka, darah ayah mereka, darah kakak mereka,darah adik mereka ataukah darah teman-teman mereka bermain.

Ada sakit yang teramat sakit ketika ku saksikan para wanita itu berteriak menggendong seorang anak yang berlumur darah, kehilangan satu tangan akibat ledakan bom, entahlah anak siapa, anak wanita itu,anak kakaknya, anak adiknya,ataukah anak tetangganya.

Ada perih yang tak tertahankan melihat para lelaki tua memegang senjata di usia senja mereka, berjalan tertatih-tatih demi melindungi istrinya yang juga telah renta,melindungi anak-anaknya, melindungi cucu-cucunya,menjaga tempat tinggalnya,mempertahankan tanah kehidupannya.

Ada amarah yang ingin meledak ketika ku saksikan pasukan-pasukan bejat itu berkeliaran diudara dengan helikopter mereka meledakkan bom-bom diatas tanah itu, tanah muslim,tanah para Nabi.

Ada murka yang tak terbendung menyaksikan para penjajah itu meluluh lantakkan rumah tempat tinggal mereka,membumi hanguskan rumah mereka, meledakkan setiap sumber kehidupan mereka, menghancurkan kebebasan mereka.

Ada rindu yang kukirim dengan diiringi jutaan cahaya dari setiap Do’a-Doa ku untukmu anakku,adikku,kakakku,ibuku,ayahku,saudaraku,palestinaku,Gazaku. Tak akan pernah putus Do’a ku untuk kedamaianmu, karna air mata masih mengalir,karna jeritan pilu masih terdengar,karna ceceran darah masih belum kering di tanah itu,karna perang masih berlangsung,dan Do'a ku takkan pernah putus.

YVKS

Selasa, 01 Juli 2014

SEDANG TAK MERINDU HUJAN

 Kubisikkan semusim kata  pada hujan yang turun tadi malam


Yang terlalu ramai memuntahkan rinainya


beberapa malam ini hujan riuh sekali mengusikku


Mungkin sebuah pesan mungkin sebuah perintah


Mau tak mau harus ia sampaikan walau hanya setangkai hujan yang menerima


Hujan tadi malam lagi-lagi mengundangku menarik selimut menghangatkan tubuh


dengan secangkir  kopi hitam yang walau tanpa ditemani gemuruh bulir hujan akan tetap kuteguk nikmat


hujanlah yang dengan sekejap mengosongkan bangku taman dan memenuhkan emperan toko


hujan pula yang menakuti segelintir orang menghentikan kegiatannya menikmati matahari  


itu bukan semacam pujian hanya saja aku tergoda menyindir hujan tadi malam


tak berani kukeluarkan sumpah serapah pada hujan tadi malam


karna memang ini bukan kebencian


lagi pula takut mengundang penikmat  hujan


menyerangku dengan guyuran kata-kata hujan mereka


hujan tadi malam meninggalkan rasa sesal


saja pada kisah lama yang akhirnya jadi kenangan


membuatku tak berselera menikmati hidangan dingin yang yang mulai menjalari tubuh  


aku sedang tak ingin memberi makna pada setiap tetesnya


walaupun hujan masih tetap memaksa  


semoga hujan tadi malam mengerti semusim kata yang kubisikkan  


bukan tentang sebuah kesedihan hanya saja aku sedang tak merindu hujan  






_yVKS