Halaman

Selasa, 11 Maret 2014

Menulis "Perempuan" ditemani secangkir kopi

Tiba-tiba saya ingin menulis sesuatu yang seperti ini, setelah saya melihat cover dari buku karya Djenar Maesa Ayu yang berjudul "Nayla", buku ini sudah lama saya khatamkan, termasuk dengan karya  Djenar yang lain yaitu "Jangan main-main dengan kelaminmu"(lagi-lagi perempuan pada sisi selangkangan). karya- karya Djenar memang hampir semua bertemakan perempuan mungkin karna dia seorang perempuan jadi melahirkan tokoh-tokoh perempuan dalam tulisannya. yang saya nikmati dalam setiap tulisannya adalah caranya menggambarkan perempuan yang kuat dan luar biasa, bukan seorang perempuan yang selalu disebut sebagai "pemilik tangis", "pemilik rasa", "pemilik keindahan" dan segala jenis sebutan untuk perempuan, yah walaupun memang semunya benar tapi pointnya perempuan terlahir bukan hanya untuk itu. saya sebagai perempuan kagum akan keberaniannya menggambrakn perempuan dari sisi (yang betul-betul) keperempuanan yang sebenarnya. bagaimana perempuan dijadikan sebagai bahan eksploitasi pasar (ini sudah rahasia umum) , bagaimana isu gender masih berlaku di masyarkat umum dalam hal pekerjaan, dan masih banyak lagi.

Perbedaanya dengan kaum laki-laki adalah, syarat menjadi perempuan yang baik adalah  harus luar biasa di "dapur,sumur,dan (ini yang paling mengganggu) kasur". perempuan yang baik adalah yang jago masak, melakukan perkerjaan rumah tangga, mengurus keuangan dan memberi keturunan atau memuaskan suami diranjang, sedangkan syarat-syarat menjadi laki-laki adalah pintarlah mencari uang (Djenar pun sempat membahasnya) . beruntunglah pemikiran seperti itu hanya berlaku dimasyarakat tradisional yang memang membekali perempuan dengan keterampilan seperti itu sejak mereka lahir. saya bukan mencoba menjadi RA Kartini kedua yang sedang berjuang melawan diskriminasi perempuan, hanya saja saya terkadang terganggu dengan hal-hal yang( dianggap sepele namun) menyentil keberadaan perempuan. beberapa hari yang lalu saya menonton acara yang ditayangkan salah satu televisi swasta dengan judul  "Harta, Tahta dan Wanita" yang di tayangkan tengah malam. Damn! saya tidak suka acara ini dari judulnya saja seakan-akan perempuan hanya disejajarkan dengan Tahta dan Harta tentang bagaimana perempuan dijadikan tolak ukur keberhasilan seorang laki-laki (itu pandangan awal saya) namun ternyata acara ini mengangkat peristiwa-peristiwa hukum yang dimana perempuan terlibat didalamnya (menurutku sama saja, kenapa laki-laki tidak dicantumkan dijudul kalau begitu, mereka bahkan pelaku kebanyakan kasus hukum).

Saya punya dosen perempuan (dikampus lama) seorang perokok, dia adalah seorang dosen yang cukup akrab dengan mahasiswanya dan sering berbincang-bincang lepas dibawah pohon dengan mahasiswanya dan tentu saja sambil menikmati rokoknya. suatu kali seorang dosen (laki-laki) baru punya masalah (entah dengan dosen  perempuan tadi atau dengan dirinya sendiri -__-" ), saya pun kurang paham dengan masalahnya intinya tentang perkuliahan, dosen baru ini sering menyindir lewat akun sosial medianya. point yang saya tangkap adalah, ada bagian dimana ia menyindir kata "perokok". bagian mana yang salah dengan kata ini?? (anda bingung? sama! saya juga) padahal banyak kok orang-orang disekitar kita perokok, ternyata yang salah adalah karna dosen ini "perempuan". FAKK! (sorry for that) saya benci bagian dimana ke-perempuan-an lagi-lagi di jadikan alasan. itulah yang terjadi perempuan yang merokok itu tidak baik, nakal, dan liar. padahal bukan itu yang penting tapi bagaimana dosen ini membagikan ilmunya kepada mahasiswa, metode pengajarannya (sejauh ini saya memberinya 2 jempol). so because she is a smoker,it means she is not good enough to be a good lecturer?? . ini betul-betul memuakkan saya.

Menjadi perempuan kuat adalah sebuah pilihan, tikungan yang terjal namun disitulah letak keindahannya. BERSAMBUNG

NEXT ON  "Perempuan yang harus diperistri adalah yang masih perawan"---> WTF -__-"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar